Translate

Jumat, 21 Agustus 2015

My Story tonight (Kisahku malam ini)

Selamat Malam Blogger semua, sudah lama saya tak menulis Blog, Saya hanya mau berbagi pengalaman saja buat malam ini, emm Mungkin kalian pernah dengar istilah Broken Home, yahh itulah yang saya rasakan saat ini, 3 Setengah tahun lalu saya kehilangan sosok seorang ayah tepat bulan November 2011 silam, jujur itu sangat berat buat saya karena saya anak pertama dari 3 bersaudara, dan saya saat itu masih kelas 2 SMA dan belum ada namanya kedewasaan pada diri saya dulu.
Ibu saya setelah kepergian ayah bekerja sendiri dan Alhamdulillah itu cukup buat makan dan keperluan sekolah kami, saya juga sedikit-sedikit membantu ibu saya saat itu, dan kami cukup bisa kembali Tegar dari duka. kehidupan kami saat itu sederhana namun bekecukupan, saya bersyukur dengan apa yang ada saat itu sebelum orang itu datang merusak ketenangan kami.
2 Tahun berlalu dan ada Orang yang mendekati ibu, saya tak mengenal asal usul orang itu tapi dia dikenalkan oleh teman ibu yang dikiranya ibu saya perlu sosok pengganti ayah, padahal menurut pemikiran saya ibu tidak perlu apa-apa lagi selain keluarga yang tersisa ini, dan orang itu datang kerumah kami, disaat itu saya masih bodoh dan sangat egois, mengira mereka hanya akan saling mengenal, entah kenapa orang itu mulai menunjukkan sifat Iblisnya , dulu dia hanya datang sekali kerumah pada siang hari , saya bisa maklum dan wajarkan saja , tapi lambat laun dia seperti tidak sadar pada Etika bertamu, dia hampir datang setiap hari dan tentunya tanpa sepengetahuan saya karena saya masih sekolah.
Saat itu ada hari dimana Ibu bertengkar dengan dia entah itu apa saya tidak tahu masalahnya, dan dia tak kerumah selam 2 hari, saya lega karena dia sudah tidak datang lagi, karena jelas saya tidak suka dengan siapapun yang menyakiti hati Ibu saya, dan masalah dimulai ,ternyata Ibu menemukan bukti kalo dia masih punya istri karena ibu ditelpon oleh wanita yang tak dikenal, jelas itu membuat saya Marah besar dan bersumpah akan menghajar orang itu jika dia berani muncul dihadapan saya, dan malam itu ada SMS masuk dengan nomor baru, dan isinya adalah "woy percuma ibumu berjilbab kalo dia udah main 3 kali dengan aku, sungguh nikmat ibumu" saya masih ingat betul dengan jelas SMS Iblis itu , itu sangat membuat saya marah tidak terkendali lagi , orang ini sudah betul-betul menghancurkan kedamaian keluarga kami, saya mencari orang itu kemana-mana dan tentunya ibu memohon jangan lakukan hal itu , tapi yang namanya anak kalau ibunya sudah diperlakukan tidak senonoh seperti itu sampai ujung dunia pun dendam ini tak akan hilang kecuali dia MATI bersamanya.
Setelah itu keesokan harinya dia datang meminta maaf didepan saya, ketika dia didepan pintu rumah saya sudah siap mau menghajar dan bhkan ingin membunuhnya sampai dia menyesal sudah masuk kekeluarga kami dan tentunya ibu memohon ampun pada saya agar jangan ikuti emosi saya, jujur saya tahu ibu tidak mau pisah dengan dia dan itu merupakan keBODOHan terbesar Ibu saya.
Saya menyuruh orang itu jangan pernah ganggu keluarga kami lagi, dan dia menyetujuinya dan ibu terlihat depresi setelah saya mengusirnya,dan bodohnya saya waktu itu menanggap semua sudah selesai.
1 Tahun kemudian saya waktu itu sudah lulus dan saya bekerja jauh dari rumah keluar kota, karena saya tidak betah telalu lama diluar kota dan memikirkan ibu dan adik-adik saya dirumah saya kembali kerumah agar mencari kerja ditempat yang dekat saja, dan masalah baru muncul lagi. adik saya yang paling kecil saat itu umurnya masih 5 tahun dia bercerita kalau dia dan Ibu selama saya pergi kerja sering kerumah sakit, saya kaget mendengarnya saya kira ibu sakit tapi adik saya bilang kalau dia menjenguk ORANG itu lagi sakit, bukan kepalang lagi Emosi saya memuncak sekali, mereka diam-diam sudah berhubungan lagi saat saya sedang kerja diluar, saya sangat terpukul,sakit hati,depresi,dan bingung harus bagaimana lagi, sebagai Laki-laki satu-satunya dikeluarga ini.
saya menjudge ibu dan ibu mengakui kalau mereka kembali berhubungan, dan ibu mengaku kalau dia sudah HAMIL saat itu, dan saya sangat terkejut,marah,kesal,sakit bercampur semuanya, dan ibu meminta mereka menikah saja biar tidak menjadi Aib, saya benar-benar tak habis pikir saat itu, saya hanya bisa menangis setelah terakhir kali saya menangis saat kematian ayah saya, saya hanya bisa berkata" Terserah bu , aku takkan menganggapnya keluarga,ayah,manusia sedikitpun kalau kalian sudah menikah" dan ibu juga menangis setelah saya berkata seperti itu, saya hampir tidak ingin hidup lagi dalam keluarga ini.
dan sekarang ibu dan orang itu mempunyai anak bayi, dan saya hanya mengurung diri didalam rumah ,ekonomi keluarga kami hancur , orang itu tidak bekerja dan hanya menganggur, dan ibu yang saat ini mencari uang, saya tidak peduli dengan apapun lagi , saya hidup hanya untuk disakiti , ibu sekarang hanya bisa marah-marah karena saya tidak mencari kerja, biarkan sajalah AKU SUDAH TIDAK PEDULI LAGI

Selasa, 23 Juni 2015

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Selamat Siang Para Blogger dan pembaca, Pada postingan saya kali ini saya ingin sharing tentang Sejarah Kerajaan Kutai kota kelahiran saya. semoga postingan kali ini menambah pengetahuan para pembaca tentang sejarah kota kami. Silahkan disimak.


SEJARAH KERAJAAN KUTAI

Foto :Patung lembuswana

sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara Kaman.

Pada awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).

Dengan adanya dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ini tentunya menimbulkan friksi diantara keduanya. Pada abad ke-16 terjadilah peperangan diantara kedua kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah rajanya Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).

Tahun 1732, ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan.

Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo Lamaddukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.

Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga. Sepeninggal Sultan Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai putera mahkota yang syah dari Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda Seberang). Sejak itu dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado.

Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak dapat dipenuhi.

Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.

Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.

Pada tahun 1838, Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin setelah Aji Imbut mangkat pada tahun tersebut.

Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James Erskine Murray asal Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray datang ke Kutai untuk berdagang dan meminta tanah untuk mendirikan pos dagang serta hak eksklusif untuk menjalankan kapal uap di perairan Mahakam. Namun Sultan A.M. Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini. Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan meriam kearah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai. Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk diantara yang tewas tersebut.

Insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai ke pihak Inggris. Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan terhadap Kutai, namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. Kemudian Belanda mengirimkan armadanya dibawah komando t'Hooft dengan membawa persenjataan yang lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada t'Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan A.M. Salehuddin diungsikan ke Kota Bangun. Panglima perang kerajaan Kutai, Awang Long gelar Pangeran Senopati bersama pasukannya dengan gagah berani bertempur melawan armada t'Hooft untuk mempertahankan kehormatan Kerajaan Kutai Kartanegara. Awang Long gugur dalam pertempuran yang kurang seimbang tersebut dan Kesultanan Kutai Kartanegara akhirnya kalah dan takluk pada Belanda.

Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang Residen yang berkedudukan di Banjarmasin.

Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang pertama di pantai timur Kalimantan.

Pada tahun 1850, Sultan A.M. Sulaiman memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Kutai kartanegara Ing Martadipura.

Pada tahun 1853, pemerintah Hindia Belanda menempatkan J. Zwager sebagai Assisten Residen di Samarinda. Saat itu kekuatan politik dan ekonomi masih berada dalam genggaman Sultan A.M. Sulaiman (1850-1899).

Pada tahun 1863, kerajaan Kutai Kartanegara kembali mengadakan perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda.

Tahun 1888, pertambangan batubara pertama di Kutai dibuka di Batu Panggal oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga meletakkan dasar bagi ekspoitasi minyak pertama di wilayah Kutai. Kemakmuran wilayah Kutai pun nampak semakin nyata sehingga membuat Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi sangat terkenal di masa itu. Royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai diberikan kepada Sultan Sulaiman.

Tahun 1899, Sultan Sulaiman wafat dan digantikan putera mahkotanya Aji Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin.

Pada tahun 1907, misi Katholik pertama didirikan di Laham. Setahun kemudian, wilayah hulu Mahakam ini diserahkan kepada Belanda dengan kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun kepada Sultan Kutai Kartanegara.

Sultan Alimuddin hanya bertahta dalam kurun waktu 11 tahun saja, beliau wafat pada tahun 1910. Berhubung pada waktu itu putera mahkota Aji Kaget masih belum dewasa, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.

Pada tanggal 14 Nopember 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit.

Sejak awal abad ke-20, ekonomi Kutai berkembang dengan sangat pesat sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co. Di tahun-tahun tersebut, kapital yang diperoleh Kutai tumbuh secara mantap melalui surplus yang dihasilkan tiap tahunnya. Hingga tahun 1924, Kutai telah memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden - jumlah yang sangat fantastis untuk masa itu.

Tahun 1936, Sultan A.M. Parikesit mendirikan istana baru yang megah dan kokoh yang terbuat dari bahan beton. Dalam kurun waktu satu tahun, istana tersebut selesai dibangun.

Ketika Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, Sultan Kutai harus tunduk pada Tenno Heika, Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan gelar kehormatan Koo dengan nama kerajaan Kooti.

Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.

Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.

Pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang "Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan", wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:

1. Daerah Tingkat II Kutai dengan ibukota Tenggarong

2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan

3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda

Pada tanggal 20 Januari 1960, bertempat di Gubernuran di Samarinda, A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur, dengan atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga daerah swatantra tersebut, yakni:

1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai

2. Kapt. Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda

3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan

Sehari kemudian, pada tanggal 21 Januari 1960 bertempat di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono (Walikota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan). Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dibawah Sultan Aji Muhammad Parikesit berakhir, dan beliau pun hidup menjadi rakyat biasa.

Pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pada tanggal 7 Nopember 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putera Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan maksud diatas. Presiden Gusdur menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putera mahkota H.Aji Pangeran Praboe.

Pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penabalan H.A.P. Praboe sebagai Sultan Kutai Kartanegara baru dilaksanakan pada tanggal 22 September 2001.Dan b
eliau masih bertahkta sampai hari ini.

Itu lah ringkas Sejarah Kerajaan Kutai , semoga Bermanfaat ,Kritik dan Saran kalian diperlukan demi Kebaikan Blog saya . Terima Kasih :D



Senin, 22 Juni 2015

Kutai Kartanegara


Selamat Malam para Blogger , Perkenalkan nama saya Anjar ,Saya masih Newbie di Blogger , jadi Salam Kenal buat para pembaca dan blogger-blogger senior .

Untuk postingan pertama saya ingin sharing tentang kota kelahiran saya Kota Raja Kutai Kartanegara.

Jembatan Kutai Kartanegara 


Gambar diatas adalah Jembatan Kukar (Kutai Kartanegara) yang biasa kami sebut Golden Gatenya Kalimantan , Tapi itu sudah tinggal kenangan karena jembatan ini runtuh pada tanggal 26 November 2011 karena bahan material yang tak kuat menahan jembatan ini saat ada perbaikan di hari nahas itu, Pray for the victims in the disaster.

Patung Lembuswana


Next gambar di atas adalah patung Lembuswana Lambang dari kerajaan kutai , berbelalai bukan gajah, bertaring bukan harimau ,bertaji bukan ayam,bersayap bukan burung. Patung ini dibuat oleh Seniman asal Burma(Myanmar) pada pertengahan abad 19-20, namun baru menghiasi pelataran kedaton Kutai Kartanegara sejak Awal abad 20.

Leluhur warga Kutai mempercayai bahwa Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman, yang bertakhta sebagai raja Kutai sekitar 1.500 tahun silam.

Tampaknya mirip dengan sebagian besar penganut Shiwa di Nusantara, bahwa lembu merupakan kendaraan Dewa Shiwa: Raja Majapahit pun dilambangkan sebagai Shiwa pula.

Satwa mitologi ini telah menjadi simbol keperkasaan dan kedaulatan seorang penguasa. Unsur belalainya menandakan bahwa satwa ini juga perlambang sosok Ganesha, Dewa Kecerdasan.

Selain di Museum Mulawarman, patung Lembuswana raksasa juga menghiasi Pulau Kumala, tempat rekreasi di tengah Sungai Mahakam. Lembuswana telah meretas masa, dari zaman kerajaan Hindu tertua sampai kasultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, namun makna bagi warga Kutai tetap tidak berubah bahwa sosok ini mengikhtisarkan pula pemimpin yang mulia seharusnya juga mengayomi rakyat.

Pulau Parai Kumala




Next gambar diatas adalah Pulau Kumala , Salah satu tempat Rekreasi yang cukup terkenal di Kukar.
Kawasan Pulau Kumala terletak di tengah Sungai Mahakam merupakan daerah Delta yang memanjang di sebelah Barat Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas 76 Ha perpaduan antara teknologi modern dan budaya tradisional. Di desain menjadi Taman Wisata Rekreasi dan ditata rapi dengan perpaduan arsitektur berteknologi modern dan budaya tradisional.



Sejak tahun 2000 Pulau Kumala di bangun menjadi Kawasan Wisata. Pembangunan Taman Wisata Pulau Kumala dilakukan secara bertahap dan berkembang. Dan teru-menerus dilakukan penambahan Fasilitas rekreasi yang akan dapat terus menarik pengunjung, khususnya bagi pengunjung yang membawa keluarganya untuk berakhir pekan dan menikmati segala fasilitas di Pulau Kumala yang Eksotis.Di pulau ini juga terdapat DJS Resort Pulau Kumala lengkap dengan Kolam Renang, restoran, Cottage dan Sarana Bagi mereka yang ingin istirahat.

Pulau ini dibangun menyerupai Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta, dan dibangun untuk menampilkan kebudayaan Kalimantan dengan perpaduan antara Suku Kutai, Dayak dan Jawa. Hal ini dapat dilihat dengan adanya Lamin, serta bangunan candi yang disebut Pura Pasak Pulau sebagai salah satu tempat ibadah penganut Hindu di Kabupaten Kutai Kartanegara, serta patung besar Lembu Swana yang berada di bagian ujung Pulau yang menghadap ke arah Jembatan Kutai Kartanegara yang megah.

Untuk meyeberangi Pulau Kumala dapat menggunakan Anggunakan Angkutan Air berupa Longboat atau perahu tradisional (Ketinting/Ces), biaya yang dikenakan untuk menyeberang dengan Ces adalah Rp. 2.500.- /orang, dan lama penyeberangan sekitar 10 menit, namun jika pengunjung berminat, juga dapat menggunakan Kereta Gantung yang terletak di Tenggarong Seberang untuk menyeberang untuk menyeberang ke Pulau Kumala. Di pulau ini dapat dinikmati tempat rekreasi dan arena bermain untuk keluarga dan anak-anak.





Taman Wisata Pulau Kumala berjarak sekitar 27 km dari Kota Samarinda yang dapat ditempuh melalui Jembatan Kutai Kartanegara 1 dalam waktu kurang lebih 30 menit. Sedangkan dari kota Balikpapan yang memiliki fasilitas Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Laut Semayang yang merupakan akses transportasi udara dan laut di Kalimantan Timur, Berjarak sekitar 130 km yang dapat ditempuh Kurang Lebih 3 jam lewat jalan darat. Selain itu Taman Wisata Pulau Kumala dapat juga dicapai dengan transportasi air melewati Sungai Mahakam.

Adapun wahana yang terdapat di pulau ini antara lain :

1. Sky Tower setinggi 75 Meter
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 7.500,-
Anak-anak : Rp. 5.000,-

2. Mini Train
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 5.000,-
Anak-anak : Rp. 2.500,-


3. Merry Go Round
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 5.000,-
Anak-anak : Rp. 2.500,-


4. Mobil Angkutan Wisata
Tarif (Ticket Fee) :
Dewasa : Rp. 1.000,-
Anak-anak : Rp. 1.000,-


5. Kereta Gantung (Cable car)
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 7.500,-
Anak-anak : Rp. 5.000,-


6. Arena permainan
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 5.000,-
Anak-anak : Rp. 2.500,-


7. Trampolin
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 7.500,-
Anak-anak : Rp. 5.000,-
Festival Adat Kutai Kartanegara ERAU


Kurang lengkap kalau saya tidak menuliskan Festival adat Tertua Kutai Kartanegara yang satu ini , Gambar diatas adalah Festival Adat Kutai Kartanegara yang biasa kami sebut ERAU.
"Erau" dalam bahasa Kutai Berarti Hilir Mudik,Bergembira,dan Berpesta Ria.





Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada tahun 1960 wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. 
Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.



Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.

Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782

Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M, Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai Kartanegara dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.



Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Puncak Festival Erau "Belimbur"



Disinilah puncak dari Acara Festival adat Kukar Erau Belimbur ,acara puncak pada hari penutupan setelah pembuangan patung naga Kota Tenggarong dan sekitarnya melaksanakan tradisi belimbur yaitu menyiram semua Orang dengan Air seperti Festival air di luar negeri . Konon tradisi Belimbur bisa diartikan penyucian,pembersihan,pelunturan Dosa. Tak Heran banyak turis mancanegara selalu  berwisata ke Tenggarong ,Kutai Kartanegara mengikuti Festival adat Tertua Kutai Kartanegara ini.


Bagaimana? Tertarik berwisata kemari? hehe Datanglah dan dapatkan pengalaman berkesan di Kota kami .

Demikian lah penjelasan singkat dari Kota Kelahiran Saya ini , jika ada salah kata dan penulisan mohon di maafkan . Kritik dan Saran kalian Berarti buat kebaikan saya :D






Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Erau

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/lembuswana-satwa-mitologi-sang-kota-raja