Selamat Malam para Blogger , Perkenalkan nama saya Anjar ,Saya masih Newbie di Blogger , jadi Salam Kenal buat para pembaca dan blogger-blogger senior .
Untuk postingan pertama saya ingin sharing tentang kota kelahiran saya Kota Raja Kutai Kartanegara.
Jembatan Kutai Kartanegara
Gambar diatas adalah Jembatan Kukar (Kutai Kartanegara) yang biasa kami sebut Golden Gatenya Kalimantan , Tapi itu sudah tinggal kenangan karena jembatan ini runtuh pada tanggal 26 November 2011 karena bahan material yang tak kuat menahan jembatan ini saat ada perbaikan di hari nahas itu, Pray for the victims in the disaster.
Patung Lembuswana
Leluhur warga Kutai mempercayai bahwa Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman, yang bertakhta sebagai raja Kutai sekitar 1.500 tahun silam.
Tampaknya mirip dengan sebagian besar penganut Shiwa di Nusantara, bahwa lembu merupakan kendaraan Dewa Shiwa: Raja Majapahit pun dilambangkan sebagai Shiwa pula.
Satwa mitologi ini telah menjadi simbol keperkasaan dan kedaulatan seorang penguasa. Unsur belalainya menandakan bahwa satwa ini juga perlambang sosok Ganesha, Dewa Kecerdasan.
Selain di Museum Mulawarman, patung Lembuswana raksasa juga menghiasi Pulau Kumala, tempat rekreasi di tengah Sungai Mahakam. Lembuswana telah meretas masa, dari zaman kerajaan Hindu tertua sampai kasultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, namun makna bagi warga Kutai tetap tidak berubah bahwa sosok ini mengikhtisarkan pula pemimpin yang mulia seharusnya juga mengayomi rakyat.
Pulau Parai Kumala
Next gambar diatas adalah Pulau Kumala , Salah satu tempat Rekreasi yang cukup terkenal di Kukar.
Kawasan Pulau Kumala terletak di tengah Sungai Mahakam merupakan daerah Delta yang memanjang di sebelah Barat Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara dengan luas 76 Ha perpaduan antara teknologi modern dan budaya tradisional. Di desain menjadi Taman Wisata Rekreasi dan ditata rapi dengan perpaduan arsitektur berteknologi modern dan budaya tradisional.
Sejak tahun 2000 Pulau Kumala di bangun menjadi Kawasan Wisata. Pembangunan Taman Wisata Pulau Kumala dilakukan secara bertahap dan berkembang. Dan teru-menerus dilakukan penambahan Fasilitas rekreasi yang akan dapat terus menarik pengunjung, khususnya bagi pengunjung yang membawa keluarganya untuk berakhir pekan dan menikmati segala fasilitas di Pulau Kumala yang Eksotis.Di pulau ini juga terdapat DJS Resort Pulau Kumala lengkap dengan Kolam Renang, restoran, Cottage dan Sarana Bagi mereka yang ingin istirahat.
Pulau ini dibangun menyerupai Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta, dan dibangun untuk menampilkan kebudayaan Kalimantan dengan perpaduan antara Suku Kutai, Dayak dan Jawa. Hal ini dapat dilihat dengan adanya Lamin, serta bangunan candi yang disebut Pura Pasak Pulau sebagai salah satu tempat ibadah penganut Hindu di Kabupaten Kutai Kartanegara, serta patung besar Lembu Swana yang berada di bagian ujung Pulau yang menghadap ke arah Jembatan Kutai Kartanegara yang megah.
Untuk meyeberangi Pulau Kumala dapat menggunakan Anggunakan Angkutan Air berupa Longboat atau perahu tradisional (Ketinting/Ces), biaya yang dikenakan untuk menyeberang dengan Ces adalah Rp. 2.500.- /orang, dan lama penyeberangan sekitar 10 menit, namun jika pengunjung berminat, juga dapat menggunakan Kereta Gantung yang terletak di Tenggarong Seberang untuk menyeberang untuk menyeberang ke Pulau Kumala. Di pulau ini dapat dinikmati tempat rekreasi dan arena bermain untuk keluarga dan anak-anak.
Taman Wisata Pulau Kumala berjarak sekitar 27 km dari Kota Samarinda yang dapat ditempuh melalui Jembatan Kutai Kartanegara 1 dalam waktu kurang lebih 30 menit. Sedangkan dari kota Balikpapan yang memiliki fasilitas Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Laut Semayang yang merupakan akses transportasi udara dan laut di Kalimantan Timur, Berjarak sekitar 130 km yang dapat ditempuh Kurang Lebih 3 jam lewat jalan darat. Selain itu Taman Wisata Pulau Kumala dapat juga dicapai dengan transportasi air melewati Sungai Mahakam.
Adapun wahana yang terdapat di pulau ini antara lain :
1. Sky Tower setinggi 75 Meter
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 7.500,-
Anak-anak : Rp. 5.000,-
2. Mini Train
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 5.000,-
Anak-anak : Rp. 2.500,-
3. Merry Go Round
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 5.000,-
Anak-anak : Rp. 2.500,-
4. Mobil Angkutan Wisata
Tarif (Ticket Fee) :
Dewasa : Rp. 1.000,-
Anak-anak : Rp. 1.000,-
5. Kereta Gantung (Cable car)
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 7.500,-
Anak-anak : Rp. 5.000,-
6. Arena permainan
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 5.000,-
Anak-anak : Rp. 2.500,-
7. Trampolin
Tarif (Ticket Fee)
Dewasa : Rp. 7.500,-
Anak-anak : Rp. 5.000,-
Festival Adat Kutai Kartanegara ERAU
"Erau" dalam bahasa Kutai Berarti Hilir Mudik,Bergembira,dan Berpesta Ria.
Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.
Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.
Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat Keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.
Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada tahun 1960 wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai.
Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi kota Tenggarong pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak tahun 1782.
Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat.
Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs.H. Achmad Dahlan Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782
Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M, Parikesit, maka Erau dapat dilaksanakan Pemda Kutai Kartanegara dengan kewajiban untuk mengerjakan beberapa upacara adat tertentu, tidak boleh mengerjakan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, dan beberapa kegiatan yang diperbolehkan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga/ketangkasan.
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai untuk menjadikan Erau sebagai pesta budaya yakni dengan menetapkan waktu pelaksanaan Erau secara tetap pada bulan September berkaitan dengan hari jadi kota Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai penampilan ragam seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Puncak Festival Erau "Belimbur"
Disinilah puncak dari Acara Festival adat Kukar Erau Belimbur ,acara puncak pada hari penutupan setelah pembuangan patung naga Kota Tenggarong dan sekitarnya melaksanakan tradisi belimbur yaitu menyiram semua Orang dengan Air seperti Festival air di luar negeri . Konon tradisi Belimbur bisa diartikan penyucian,pembersihan,pelunturan Dosa. Tak Heran banyak turis mancanegara selalu berwisata ke Tenggarong ,Kutai Kartanegara mengikuti Festival adat Tertua Kutai Kartanegara ini.
Bagaimana? Tertarik berwisata kemari? hehe Datanglah dan dapatkan pengalaman berkesan di Kota kami .
Demikian lah penjelasan singkat dari Kota Kelahiran Saya ini , jika ada salah kata dan penulisan mohon di maafkan . Kritik dan Saran kalian Berarti buat kebaikan saya :D
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Erau
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/lembuswana-satwa-mitologi-sang-kota-raja














Tidak ada komentar:
Posting Komentar